Category — Artikel Lepas
(Pesta di) Rumah Rapuh
(Pesta di) Rumah Rapuh Rumah besar dengan visi-visi dan misi-misi yang terpasang pada dinding tebal ini telah lama berdiri. Dengan tingkat fertilitas yang tinggi, rumah ini melahirkan ribuan karakter manusia tapi melekatkan satu ciri khas yang diserupakan dan ditanamkan. Kemandulan hanya terjadi pada 3 periode tahun-tahun genap selebihnya rumah ini tetap bereproduksi secara berkala dan permanen di setiap tahunnya. Sosialisasi antar sesama adalah suatu hal yang unik dan menjadi sebuah nilai terbaik di dalam jiwa penghuni rumah ini. Saling menyapa dengan menyebutkan istilah brother dan sister demi menyempitkan jenjang usia yang cukup jauh, merupakan suatu cara untuk merekatkan hubungan antar sesama relatif. Menyebut diri sebagai bagian keluarga besar adalah andalan setiap tubuh yang hidup dalam rumah besar ini. Keluarga yang mempunyai kehidupan sendiri, mempunyai takdir sendiri, mempunyai jalan sendiri tapi tetap mempunyai satu tujuan yang sama dalam persepsi dan bermakna dalam denotasi. Seperti layak rumah lain, pesta demi pesta dilakukan untuk mendapatkan kemeriahan di rumah ini, yang kemudian membawa senyum di setiap individu.
Berkumpul membangun dialog dengan wujud historis yang tidak ada nilai basa-basinya dilakukan oleh setiap mata yang melingkar diantara keakraban hubungan. Kebaikan datang karena jalinan yang terputus atau sama sekali belum tersambung dapat kembali terikat. Saat-saat seperti ini walaupun menghadirkan peluh-peluh air dalam persiapan, adalah suatu hal yang baik untuk dilaksanakan. Sebetulnya tidak ada yang baru dalam pesta tahunan ini. Benar-benar tidak ada suatu yang inovatif, hanya saja ada beberapa penghuni rumah yang dulu, dengan mengambil istilah dari jagoan lawak Indonesia Warkop DKI, indekost di rumah ini, akhirnya datang kembali. Semua itu kembali hanya untuk me-reka ulang memori-memori sejarah. “Dulu waktu jaman gw nih” dengan kalimat itulah kami semua memulai pembicaraan. Memotong tema-tema yang bervisualisasi ke masa mendatang. Memang kenangan itu sangat mudah untuk dibicarakan karena tidak ada beban untuk ke depannya, karena apa yang sesungguhnya yang sudah berlalu biarlah berlalu. Tidak ada tanggung jawab atau beban lagi untuk mengingat masa lalu. Segala keburukan yang terjadi sudah tersubtitusi secara baik dengan karma-karma yang telah lewat dan juga sudah mulai tertutup oleh kebaikan-kebaikan diri sebagai gerakan tolak belakang.
Semua orang senang dalam acara ini, tidak terkecuali panitia-panitia yang mungkin kewalahan menghadapi bongkahan batu besar bernama pengeluaran tidak terduga yang mungkin nanti akan menghadang. Semua orang tidak ingin memikir suatu yang dapat memutarkan tuas kepala sehingga dapat menggerakkan turbin yang dapat mengeluarkan panas dengan seketika dan mungkin dapat meledak tubuh. Semua orang sibuk dengan cakap kecap hanya untuk melanjutkan hubungan yang lebih baik bukan sekedar obrolan tanpa makna. Dari pesta ini ada sebuah keganjilan dibalik cerita, senyum, dan pandangan. Keanehan itu adalah adanya lingkar labirin tak berpusat yaitu masalah maya tapi nyata hadir dalam kompleksitas realita yang sejajar dengan tingginya tingkat kekosongan di rumah ini. Fakta berkata tentang sesuatu yang harus dihadapi dengan ketegaran hati dan kelapangan dada. Semiotik-semiotik berlalu lalang di depan mata, ada yang mudah dimengerti dan dipahami tapi ada juga yang absurd untuk dinilai secara objektif dan subjektif.
Masalah demi masalah yang merupakan proyeksi dari tingkah laku lahir disetiap harinya. Hal-hal yang wajar terjadi karena semua jiwa berafiliasi dalam satu rumah besar ini. Waktu yang lama tidak dapat memastikan sesuatu akan dapat berjalan sesuai pada jalurnya. Hal ini terbukti apabila kita bisa melihat lebih dalam dan lebih jauh tentang beberapa wujud kenyataan di dalam rumah ini. Siapa yang bisa mengubah sebuah budaya yang telah berakar sangat dalam di bawah alam sadar pengguna oksigen bumi. Ironi dari kesenangan dan kemeriahan, nilai-nilai ideal akan hidup berdampingan dan akan muncul hanya apabila semua raga penghuni rumah ini telah terserahkan dan terikat dengan rumah besar ini. Seseorang pernah berkata bahwa akar masalah yang merambat di seluruh dinding rumah ini adalah lumut-lumut pemakan semangat. Lumut-lumut itu sedikit demi sedikit menguyah dan menelan kemudian menguap kan kata atau sifat semangat itu. Di setiap harinya mereka melumatkan dinding besar ini. Sehingga pada akhirnya angin-angin diluar sana masuk ke dalam rumah ini. Membuat semua orang bertekuk lutut dan melingkarkan tubuhnya, tidak berbuat apa-apa. Tingkat kesarjanaan seseorang pun tampaknya tidak berpengaruh untuk menghidupkan semangat yang mulai menghilang. Segala daya upaya dari tingginya kemampuan jenjang pendidikan dengan visi dan misi yang cukup atau bahkan sangat super extrordinary mampu di kunyah oleh lumut itu. Kehangatan hanya terjadi di awal-awal kemunculannya saja. Selebihnya adalah dingin yang tak bisa ditiup menjauh kembali dapat menetap di dalam rumah. Dingin yang membekukan badan. Sehingga badan ini tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena kebekuannya, dan pada akhir periode tidak ada sesuatu yang memukau terjadi.
Tahun berikutnya muncul lah segerombolan anak muda dengan keberanian dan semangat baru. Muncul demi dapat menghidupkan pesta-pesta lain di rumah rapuh ini. Tetapi lingkungan berkata bahwa semangat tidak dapat ditandingi oleh kemampuan yang dimiliki. Narsisme tak berpengakuan adalah pada kemampuan anak-anak muda itu. Tidak ada satupun yang bisa mengakui kemampuan-kemampuan lemah itu. Semangat tak berpondasi dinilai tidak akan mampu membantu menghilangkan lumut-lumut. Dengan sebuah konsep saling membantu, keyakinan tumbuh dalam pemuda-pemuda sehingga meningkatkan rasa percaya diri. Tapi sejarah yang tidak mengenakkan terulang kembali. Segala langkah yang tertulis dalam rangkaian rencana terhadang oleh berbagai masalah. Kembali membekukan kehangatan yang selalu hanya ada di awal tahun. Pesta yang baru dan harapan tentang menghilangkan kekosongan hanya berakhir pada ujung telapak tangan dan jatuh menodai tanah yang tandus. Sebagian ada yang sudah lemah dan tidak kuat membopong tugas ini termasuk sang perangkai kata (speak for yourself!) sebagian ada yang masih tetap semangat menjalankan tugas yang di amanat kan. Siapa yang dapat mengokohkan tembok rumah ini, menghilangkan lumut-lumut itu, dan siapa yang dapat menghadirkan pesta kembali di tahun mendatang? dan yang terpenting apa cara yang terbaik? Pertanyaan panjang yang bukan harus di jawab tetapi diwujudkan konkret Apakah akan ada lagi (pesta di) rumah rapuh?! [jeg!]
March 16, 2008 No Comments